Menyongsong Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Taiwan

PERAYAAN Kemerdekaan telah diambang mata.Jika di tanah air segala atribut dan pernak-pernik pasti telah mewarnai di sepanjang jalan guna menyambut  Hari Kemerdekaan yang jatuh pada hari Jumat, 17 Agustus, 2018. Pelaksanaan Pawai pasti telah jauh-jauh hari dipersiapkan. Mulai dari menyewa busana adat hingga tata riasnya. Pada tahun 2017 lalu, perayaan hari kemeredekaan berjalan dengan meriah.

Berbeda dengan di perantauan, pelaksanaan kemerdekaan hanya dilaksanakan dengan upacara di kantor perwakilan Indonesia secara sederhana. Namun, tahun ini adalah kali ketiga pihak National Taiwan Museum menggandeng HIMMAS Universitas Terbuka Taiwan, melaksanakan Parade budaya, bertepatan dengan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia.  Acara diisi dengan pawai, pertunjukan kesenian, pameran kebudayaan, dan perfoma Singo Barong Taiwan.

Rombongan Parade Budaya menuju Taiwan Nasional Museum

Ada rasa menyeruak saat merayakan Hari  Kemerdakaan di Taiwan, terlevih saat mengumandangkan Lagu Indonesia Raya. LAGU kebangsaan  kerap saya dengarkan pada saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), hingga sekolah lanjutan. Lagu ini biasa dikumandangkan pada hari Senin pagi, saat pelaksanaan upacara bendera. Seiring bertambahnya usia, Lagu tersebut sudah jarang saya dengarkan. Namun siapa sangka, jika lagu kebangsaan tersebut, kini justru saya dengarkan di Taiwan, di sebuah gedung bersejarah; National Taiwan Museum (NTM).

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan, pekerja migrant Indonesia, dalam rangga penyelangaraan Parade Budaya Nasional. Acara ini diselenggerakan oleh pihak pengelola museum, Perpustakaan Brilliant Time, dan Himmas UT Taiwan. Dengan penuh khidmat lagu tersebut menggema di pelataran museum, yang disaksikan penduduk lokal, dan turis mancanegara.

Pemerintah Taiwan sangat mengapresiasi sekali akan kebudayaan, adat istiadat, dan keragaman Indosedia. Sehingga mereka kerap mengajak berkolaborasi saat mengadakan perhelatan acara tentu. Dengan kompak, warga negara Indonesia menyambut baik, dengan ikut berpatisipasi dalam acara tersebut. Meskipun bagi yang mengikuti pawai budaya harus merogoh kocek sendiri untuk menyewa pakaian adat, dan juga merias  wajah. Mereka nyaris menggelontorkan uang  jutaan rupiah untuk semua itu. Namun, karena rasa CINTA terhadap budaya, mereka dengan ikhlas melakukannya.

Di balik perayaan yang lancar, terdapat panitia yang kompak

Ini membuktikan, betapa kecintaan terhadap tanah air masih mendarah daging di hati mereka. Meskipun bertahun-tahun telah meninggalkan kampung halaman, tetap menjunjung tinggi  tanah air pusaka, dan bendera merah putih. Ketika seseorang berada di negara lain, maka ia juga sebagai duta budaya ba Merah darahku adalah ungkapan bahwa semangat yang berkobar,  tidak akan padam hingga tetesan darah terakhir. Dan putih adalah mental baja yang tidak akan pudar walau panasnya peluru datang menembus untuk sebuah kemerdekaan.

Merah darahku adalah ungkapan bahwa semangat yang berkobar,  tidak akan padam hingga tetesan darah terakhir. Dan putih adalah mental baja yang tidak akan pudar walau panasnya peluru datang menembus untuk sebuah kemerdekaan.

Taiwan, 04 Agustus 2018

Salam hangat

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it