Islam di Taiwan #1: Kepedulian Pemerintah Lokal Terhadap Tempat Ibadah umat Muslim Indonesia

KEBERADAAN umat Islam dari Indonesia mempengaruhi pertumbuhan umat muslim di pulau Formosa ini. MESKIPUN agama Islam menjadi minoritas di Taiwan,tetapi negeri Naga Kecil Asia ini sangat menghormati dan menghargai, serta menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Mereka hidup berdampingan dan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing.  

Taipei Main Station (TMS), adalah salah satu tempat di mana Warga Negara Indonesia (WNI) yang mayoritas beragama Islam berkumpul. Untuk memfasilitasi sarana ibadah, pihak pengelola Taipei Main Station pun menyediakan sebuah Mushala kecil yang terletak di underground plaza TMS. Tepat di bawah escalator yang menghubungakn mall bawah tanah dan Taipe hall.

Masjid Agung Taipei

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kunjungan  Kepala Kantor Dagang Indonesia (KDEI) dan staff jajarannya, didampingi kepala imigrasi Taipei, datang meninjau tempat beribadah tersebut. Kepala
imigrasi Taipei ingin memastikan apakah ruangan tersebut sudah layak atau belum digunakan. Mengingat Taipei Main Station merupakan jalur transportasi padat yang tidak pernah sepi oleh pengunjung.


Dimulai dari peninjauan tempat mengambil air wudhu, sebuah ruangan yang dilengkapi sarana mencuci kaki terdapat di sana. Namun, sayangnya terdapat satu buah toilet terdapat di tempat yang sama dekat dengan tempat wudhu tersebut. Kepala KDEI Robert James Bintaryo pun mengatakan, agar tempat tersebut dibuat terpisah. Karena wudhu merupakan sarana mensucikan diri untuk melaksanakan salat. Terkait permintaan orang Indonesia nomor satu di Taiwan tersebut pihak imigrasi berjanji akan berusaha memberikan yang terbaik bagi warga negara Indonesia yang berada di Taiwan.

Tempat wudhu di musala mini underground


Setelah meninjau tempat wudhu, rombongan pun beranjak menuju mushala. Mereka memasuki ruangan salat dengan satu sajadah serta beberapa tumpukan mukeda, peci, dan sarung. Melihat kondisi ruangan yang sederhana, Mr. Yang selaku ketua imigrasi meminta maaf, karena belum mampu memberikan yang lebih untuk pelaksaan ibadah. Tak hanya tempat ibadah, pemerintah Taiwan juga memberikan kebebasan untuk mengikuti organisasi atau majelis keagaamaan. Bahkan, pemerintah juga menyediakan tempat untuk melakukan pengajian rutin setiap bulannya yang mendatangkan mubaligh dari tanah air. Kegiatan tersebut mencerminkan jika toleransi umat beragama dijunjung tinggi di pulau
Formosa ini.

Perbedaan merupakan anugerah yang diberikan Allah yang patut kita syukuri. Karena perbedaan pada hakikatnya untuk saling belajar memahami satu dengan yang lain. Keberagaman menjadi indah jika masing-masing saling mengerti, bertoleransi, dan menjaga kerukunan di tengah bermasyarakat. Sepertihalnya di Steemit, perbedaan passion, kemampuan, dan karakteristik membuat semua Steemians saling belajar satu sama lain. “Berbeda untuk saling mengisi dan memotivasi.”

Sajadah di ruang salat underground

Bukan urusan kita membuat seisi bumi menjadi seragam. Tugas kita hidup rukun, nyaman, damai, bahagia, berdabai dengan semuanya. Serta bersyukur kepada Allah.

Taiwan, 06 Septembeer 2018

Salam hangat

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it