[Islam di Taiwan:3] Indahnya Islam dalam Kebersamaan

SALAH satu agenda Walking Tour di Sekitar  Taipei Main Station (TMS) adalah mengunjungi  markas Pengurus Cabang Istimewa   Nahdatul Ulama (PCI NU)  Taiwan. Rombongan kami tiba sekitar pukul 16.00, dan saat itu tengah berlangsung Salat Ashar Berjamaah. kami  pun menanti hingga pelaksaan slat selesai, lalu kami pun dipersilakan masuk. Pada hari Sabtu dan Minggu, markas akan ramai dikunjungi rekan-rekan pekerja Indonesia. Selain melaksanakan kegiatn beribadah, rekan-rekan juga diajarkan keterampilan di sini. Seperti  belajra menjahit baju.  Pelatihan menjahit baju dilaknakan pada Minggu pertama.

Di Markas PCI NU ini juga membantu mengurusi jenazah rekan-rekan PMI yang meninggal dunia di Taiwan. Di sini jenazah dimandikan, dikafani, dan sekaligus disalati, kemudian dimasukan ke dalam peti, untuk dipulangkan ke tanah air. Selama dua tahun bekerja sama dengan pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI), sebanyak dua ratus jenazah telah diurusi oleh rekan-rekan di PCI NU Taiwan. Kebanyakan yang meninggal karena menderita penyakit, dan kecelakaan.

Selain bersilaturahmi,  rekan-rekan juga banyak yang menjadikan markas PCI NU sebagai tempat bertukar pikiran dengan rekan-rekan yang lainnya.  Bekerja dan tingga di rumah orang tidak semua mendapat keberuntungan, seperti mendapat keluarga boss baik, dan menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Tidak sedikit dari mereka, yang diperlakukan tidak sesuai dengan undang Undang Ketenagakerjaan. Disinilah mereka mengadukan permasalahan, sekaligus mencari solusi yang baik.

ISLAM agama yang penuh keindahan. Di dalam Islam juga mengatur semua hal tentang manusia.  Islam tidak akan membiarkan manusia dalam kesendirian. Di dalam agama Islam mengajrakn adab-adab dalam mengormati orang lain, termasuk ketika tamu datang.  Di sela-sela perbincangan kami, rekan-rekan menyuguhi gorengan seperti bakwan, tempe goreng, tahu isi, pisang, dan air mineral.  Para peserta tour pun menyantap jajanan tersebut dengan lahap, dan mengatakan “Enak”. Karena sembari berjalan, mereka juga belajar ucapan-ucapan mudah dalan bahasa Indonesia, seperti Terima kasih, apa kabar, dan sampai jumpa.

Setelah acara diskusi kami pun melakukan foto bersama, sebagai kenang-kebangan. Saat itu waktu menunjukan pukul 17.00 waktu Taiwan. Cuaca begitu pekat, karena seharian kota Taipei diguyur hujan. Bahkan beberapa tempat pun mengalami banjir. Saya, Mba Santika, beserta rombongan DAI TV menyusuri jalan untuk kembali ke Aula TMS. Sebuah kegiatan yang melelahkan, tetapi memberikan banyak pengalaman. Tentang semangat, kebersamaan, serta kepedulian terhadap orang lain. Karena tidak seorang pun di dunia ini yang sanggup hidup sendiri.

Kebahagiaan tercipta bukan hanya harta semata, tetapi kebersamaan mampu membuat  kita menjadi mahluk yang paling bahagia  istimewa.

Taiwan, 11 September 2018

Salam hangat

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it