Kegigihan ABK di Tengah Lautan

Mereka tak pernah menyerah, meski harus berteman dengan angin kencang dan dinginnya laut, saat mencari rezky untuk keluarga di kampung halaman. 

“Pahlawan Devisa” begitulah julukan mereka. Yang rela meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan Indonesia untuk merantau ke negeri orang. Berpetulang di hamparan laut yang luas, bercengkrama dengan deburan dan ganasnya ombak yang menggulung. Belum lagi hawa dingin yang menggigit kulit jika musim dingin menyerang.

Anak Buah Kapal (ABK) profesi yang mereka geluti sebagai pencari ikan di tengah laut. Hidup mereka keras, dan penuh berliku. Minimnya informasi, Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah, dan low education, membuat mereka rentan dimanfaatkan oleh yang tidak bertanggung jawab. Eksploitasi, human trafficking, acapkali mereka alami. Sederet kasus kekerasan yang mengakibatkan terenggutnya nyawa tanpa terselesaikan, raib ditelan bumi.

Sebut saja kasus Supriyanto, Seorang ABK yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah seolah menjadi bongkahan es yang tak kunjung mencair. Pria yang meninggalkan tiga orang anak ini, harus meregang nyawa di perantauan. Akibat dianiya sahabatnya sendiri yang dibayar oleh majikan untuk memukulinya. Jenazah Almarhum pulang ke Indonesia dalam keadaan menyedihkan, karena kondisi badannya sudah mengecil 50 %. Belum lagi, kasus-kasus lain, seperti yang baru terjadi Minggu lalu, seorang ABK jatuh ke laut, lantaran hendak membetulkan tali mengikat kapal. Musim dingin, cuaca ekstrim, mengakibatkan ombak tak bersahabat. Sehingga tubuh korban terseret ombak, dan butuh tim penyelamat untuk menemukannya.

Mereka hidup di atas kapal, bersahabat dengan ombak dan dinginnya malam. Tidur di atas goyangan ombak, yang jika belum terbiasa justru terasa mual dan sakit kepala. Perjuangan mereka penuh dengan derai airmata. Namun, apakah mereka mengeluh? Tidak! Karena mengeluh takkan mengubah keadaan. Tetap bertarung dan terus berusaha adalah jalan keluar untuk sebuah pencapaian. Karena di pundak mereka, terdapat tumpuan masa depan keluarga. Anak-anak yang membutuhkan biaya, sang istri yang harus mengepulkan asap menanak nasi. Mereka selalu menanamkan kesabaran dan pantah menyerah. Karena di saat terjatuh, maka saat itulah mereka harus meloncat yang lebih tinggi. Resiko tinggi, bahkan bertaruh nyawa, tak menyulutkan semangat mereka untuk terus bekerja. Hingga kesuksesan berada di genggaman dan berkumpul kembali dengan keluarga.

Kesulitan bukanlah sesuatu yang harus diratapi terus-menerus, tapi kesulitan adalah sesuatu yag akan membuah kita semakin gigih berjuang dan bangkit. Karena pemenang sejati adalah dia yang tidak pernah berhenti berusaha meskipun telah jatuh berulang kali.

Taiwan, 12 September 2018

Salam hangat

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it