[Sosok Inspiratif] Heni Sri Sundani, Mantan PMI yang Peduli Pendidikan Anak petani

MENDAPAT prestasi yang mendunia tentu bukanlah perihal mudah. Bahkan, untuk meristis semuanya, beliau bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Heni Sri Sundani, wanita asal berhasil dinobatkan menjadi 30 pemuda berpengaruh di dunia  Versi Vorbes. Terlahir di keluarga yang tidak mampu, tidak menyurutkan Heni untuk meraih cita-citanya sebagai guru. Di tengah kesibukannya sebagai pekerja yang bertugas mengasuh anak kecil, wanita yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat ini secara diam-diam melanjutkan pendidikan di Saint Mary’s University, Hong Kong. Tak tanggung-tanggung, tahun 2011 Heni lulus dengan predikat cumclaude.

Aku memberi bukan karena aku memiliki banyak, tapi aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.

Sekembalinya ke kampung halaman, Heni menjadi tenaga pengajar  untuk anak-anak petani. Sebelum  menginjakan kaki ke kampung halaman, Heni mengyempatankan diri mengikutu sebuah Festival Sastra Internasional di Ubud, Bali. Karyanya yang bertajuk “Surat Berdarah untuk Presiden” berhasil menyedot perhatian dari publik, dan diterjemaahkan ke dalam Bahasa Inggris. Heni memang memiliki hobi  menulis. Selama bekerja ia kerapa mengikuti lomba kepenulisan dan menjadi kontributor di Majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong. Penghasilan sebagai menulis, dipakai untuk membiayai kuliah. Selain itu ia juga mengkoleksi buku-buku yang ingin ia gunakan untuk membuka perpustakaan di desanya.

Merintis Pendidikan anak Petani Miskin

Setelah menjejakan kaki di kampung halaman, Heni merasa sedih, karena desanya masih terbelakang. Ia masih menjumpai anak -anak perempuan remaja berumur 13 hingga 15 tahun sudah tidak sekolah, lalu dinikahkan. Bermodal  3000 buku yang ia beli di Negeri Beton, Heni membuka sebuah perpustakaan anak-anak, sekaligus mengajar mereka tanpa menarik bayaran.ia melihat ironi kehidupan anak-anak yang tidak mampu, yang tidak bisa mengenyam pendidikan.

Bersama sang suami menggagas sekolah “Anak Petani Cerdas”. Anak didiknya kini mencapai 1000 orang yang tersebar di tujuh kampung Pra-Sejahtera di Bogor. Melalui media sosial  Heni bergerilya mengenalkan Sekolah Anak Petani Cerdas, sehingga banyak para dermawan yang mau menjadi donatur untuk membantu sekolahan tersebut. Tak hanya menjadi pahlawan pendidikan untuk anak petani, Heni juga  menjadi motor perubahan  sosial masyarakat agraris dengan membentuk komunita AgroEdu Jampang. Komunitas ini fokus pada pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesehatan masyarakat yang kurang mampu.

Pendidikan adalah proses panjang yang akarnya pahit, tetapi buahnya manis.

Jiwa  sosialnya yang tinggi dan membantu sesama, mendatangkan rahmat dan rezeki untuk Heni. Namanya mendunia, bahkan masuk ke jajaran 30 anak muda perpengaruh di dunia majalah Vorbes. Berbagai penghargaan telah ia terima, dan saat ini telah menulis buku sebanyak 17 judul. Wanita yang memiliki nama pena Jaladara juga berhasil meraih  penghargaan di Liputan 6 Awarad 2016, untuk kategori inspirasi pendidikan.

>Pendidikan alat ampuh memutus mata rantai kemiskinan.

Mimpi Heni tertinggi adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Baginya ilmu pengetahuan juga harus diimbangi dengan ilmu agama. Karena agama adalah fondasi dari semua ilmu.

Taiwan, 02 Oktober 2018

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it