Potret Perjuangan di Negeri Rantau

Ada rindu yang membiru, di antara senyum mengembang penuh ceria. Gejolak warna meraja, menyembunyikan kegundahan hati pada keluarga. Ingin sekali bertemu, tetapi waktu belum memberi restu.

TERBANG ke Taiwan dengan membawa sejuta harapan. Mengubah nasib di masa depan, membahagiakan keluarga, dan membenahi perekonomian, itulah impian mereka–Pahlawan Devisa. Perjuangannya pun tak selalu mulus, banyak onak kerikil yang kerap menghadang. Hidup di sebuah negara dengan culture dan kepercayaan yang berbeda tidaklah mudah. Dengan modal pendidikan dan pengetahuah yang pas-pasan, para petarung masa depan ini sanggup menghadapi segala rintangan yang menghampiri. Petarung hidup sejati.

Bertemu dengan suasana baru, keluarga baru, dan keadaan yang berbeda dari kampung halaman. Tempaan waktu yang bergulir, bak air mengalir seolah mempertegas jika kehidupan di rantau tidaklah mudah. Ada banyak cerita dan ragam kehidupan yang harus dijalani. Ada yang mendapatkan kebebasan dengan segala hak libur untuk bergaul, dan menjalin kebersamaan dengan rekan sejawat. Namun, tidak sedikit pula yang harus tetap membawa pasiennya keluar hanya untuk sekedar menghirup udara segar. Sungguh rasa kagum yang aku sematkan di hati, saat melihat pengorbanan tulus dan dedikasi tinggi mereka pada pekerjaan.

Magnit Taiwan dengan segala fasilitas dan kemudahan sarana kemajuan menjadikan destinasi pilihan untuk mengadu keberuntungan hidup dan mengisi pundi-pundi penghasilan. Yang dikirimkan ke kampung halaman untuk meningkatan kesejahteraan keluarga dan orang-orang yang disayang. Tanpa lelah dan terus semangat menjalani hari-hari di perantauan dengan lika liku kehidupan yang pelik dan tak bertepi.

Senyum-senyum kecil itu tetap mengembang. Di antara himpitan tugas, rindu pada keluaraga, serta sederet problematika kehidupan, bak tali simpul yang sulit diurai. Keceriaan tersebut akan kita jumpai pada hari Minggu, di sebuah aula yang luas lengkap dengan sarana dan kebersihan yang memadai. Aula Taipei Main Station, rumah kedua bagi pahlawan devisa di Taiwan. Di tempat inilah mereka bertemu teman, sahabat, mungkin juga kenalan dari media sosial.

Bercengkara sembari menikmati hidangan nusantara, adalah potret pemandangan yang akan kita jumpai di sini. Kebersamaa mereka. Seolah bercerita bagaimana mereka merindukan kampung halaman, dengan derita suara putra-putri yang disayang, rengkuhan hangat keluarga, dan beraneka kelezatan hidangan nusantara yang dapat mereka nikmati setiap hari. Namun, beginilah realita kehidupan, yang harus dilalui dengan penuh kesabaran.

Kehidupan ini seimbang. Tidak hanya ada suka, tetapi juga duka mewarnainya. 

Taiwan, 5 Oktober 2018

Regards

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it