Ada Cinta di Sudut Aula #1

Jika semua diciptakan  berpasangan, aku tak pernah menginginkan adanya pertemuan dan juga perpisahan. Karena kutahu, bagaiamana menyiksanya keadaan itu. Saat  harus perpisah dengan seseorang yang istimewa di hati kita.

Sore itu seperti biasa, setelah dosen mata kuliah di akhir pertemuan mengucapkan salam, para mahasiswa berhamburan meninggalkan ruangan. Termasuk diriku.

“Tunggu aku di dekat pintu gerbang ya, Ci!” ucapku pada sahabatku yang bernama Aci.

“Ciyee … Yang mau ketemuan. Ehem. Rapi-rapi dulu biar terlihat segar” celetuk Dewi, teman seangkatan kami.

Aku pun tidak memedulikan cuitan tersebut. Bergegas kutinggalkan mereka menuju kamar kecil  untuk merapikan hijab yang mulai tak karuan. Seharian menguras pikiran, membuat semua mahasiswa terlihat acak-acakan saat pulang kuliah. Kurapikan Kain segi empat berwarna biru dengan padanan senada yang kupakai hari ini. Ditambah sedikit polesan bedak dan lipstik agar tidak terlalu pucat. Kupastikan jika semua rapi tertata.

Drettt … drettt! Getar handphone di balik saku. Sebuah pesan singkat WhatsAPP terkirim dari seseorang.

“Di luar hujan, kebetulan saya tidak membawa payung. Jadi tidak bisa menuju ke gedung belajar. Saya terjebak di Taipei statsion.”

“Tidak perlu kesini. Biar aku saja yang ke sana,” dengan cepat pesan balasan kukirimkan.

Beberapa hari lalu ia berpamitan, jika setelah sidangnya  selesai ia harus kembali ke tanah air. Karena waktu tinggalnya di Taiwan telah selesai. Sebenarnya ia telah melayangkan Lamaran pekerjaan ke beberapa instansi, tetapi belum ada jawaban. Sedangkan izin tinggalnya semakin sempit, dan harus pulang. Ia berjanji untuk menemuiku sebelum pulang.  Ia ingin memberika sesuatua untuku.

Hujan semakin deras. Ketiga sahabatku sudah menanti di depan gerbanag. Mereka sudah tidak sabar ingin melepaskan penat dengan berjalan-jalan di sekitar Taipei Station.  Station besar yang menjadi rumah ke dua bagi Warga Indonesia di Taiwan. Khususnya Kota Taipei.

“Kenapa tidak kau temui dia di Caffee? Agar kalian bisa ngobrol santai,” tanya Aci, yang berjalan mensejajariku.

“Itu gak mungkin. Apa kata teman-teman yang lain. Tentu ini akan menjadi bahan gosip dan bulan-bulanan mereka untuk menyudutkanku jika kelas Tatap muka.

Aci mendesah panjang. Di tahu persis perasaanku. Selama setahun lebih kami sama-sama menyembunyikan perasaan yang sama. Sebenarnya teman-teman di kelas juga kerap berkasak-kusuk di belakangku. Menerka-nerka, karena dia selalu memberi perhatian lebih saat memberikan materin kuliah. Apa lagi saat diskusi online. Entah sengaja atau kebetulan, selalu mengenali suaraku di antara mahasiswa yang lain. Namun, kami selalu bersikap profesional. Menganggap semuanya tidak pernah ada.

Gedung megah dan kokoh telah nampak dari kejauhan. Tiba-tiba jantungku bergedup kencang tak beraturan. Gugup atau rasa apa. Aku sendiri bingung menamainya. Entah apa yang harus kukatakan saat bertemu dia nanti. Ada rasa nyeri menelup di relung di hati. Dia, orang selalu menjadi memberi nasihat agar aku menjaga kesehatan di tengah rutinitas. Orang yang selalu memberikan pencerahan atas tugas-tugas yang belum kumengerti. Yang selalu menjadi penyemangat untuk terus meanjutkan perjuangan di negeri orang. Titisan air hujan semakin membekukan relung jiwa. Menoktahkan jelaga pada sejoli yang memendam rasa.

Bersambung –

Salam Aksara

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it