Kisah Difabel-Keterbatasan Tak Membuatnya Menyerah

Menjadi penyandang cacat (difabel) bukanlah suatu hal yang mudah. Karena memiliki kelainan fisik  atau mental merupakan rintangan dan hambatan bagi seseorang  untuk dapat melakukan aktivitas selayaknya manusia yang normal. Tak jarang  mereka pun  kerap mengalami peminggiran, diskriminasi, pemiskinan dalam lingkar kehidupanya. Penolakan partisipasi kaum difabilisator dalam bermasyarakat juga banyak ditemukan, karena mereka dianggap tidak dapat berbuat apa-apa, akibat kondisi yang lemah dan tidak sempurna. Sehingga tak jarang keberadaan mereka dipandang sebelah mata.

Ketidaksempurnaan fisik, bukan penghalang untuk berkarya

Jika mereka dapat  memilih, tentunya sebagai difabel bukanlah impian. Tetapi  kekurangan fisik yang mereka miliki, tidak menjadikan hambatan untuk terus menjalani kehidupan. Tuhan pun selalu berlaku adil pada setiap umat-Nya. Ketika tangan mereka tidak sempurna, Tuhan akan memberikan kelebihan kemampuan pada kaki, atau jika kaki dan mata yang tidak sempurna, maka Dia akan melebihkan pada indera penciuman atau peraba. Tuhan selalu bersama umat  yang menyayangi-Nya. Sepertihalnya yang dialami Mbok Imah dan Mbah Mijan, tetangga desaku di Lampung. Mereka adalah sepasang sejoli penyandang difabel yang terus berjuang, dan saling mengisi, agar dapat mencecap kebahagiaan sepertihalnya orang lain.  

Mbok Imah, wanita paruh baya yang saat itu  berumur 50 tahun. Ia menderita cacat sejak lahir. Tangannya yang kiri, tidak memiliki jari-jari, hanya berupa gundukan daging yang ditumbuhi satu kuku. Tak hanya mengalami cacat di bagian tangan, wanita yang berumur setengah abad ini  juga mengalami  kekurangan vitamin D, sehingga menderita penyakit “Betis O atau X”. Akibat dari kurangnya  asupan makanan yang mengandung  kalsium, kedua kaki Mbok Imah pun menderita lemas tak bertenaga. Hanya mampu berjalan pelan-pelan.  Sedangkan suaminya Mbah Mijan, yang  berumur 55 tahun, kehilangan penglihatan akibat kecelakaan yang dialaminya ketika pulang dari pasar, saat menaiki sepeda ontelnya. Di perempatan jalan, dari arah berlawanan sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan kencang, menabrak sepeda usang yang dikendarai lelaki tua tersebut, hingga menyeret tubuh rentanya ke dalam parit. Mbah Mijan mengalami luka parah, bahkan retina bagian mata sobek, dan mengalami  peningkatan flashes, sehingga menderita penurunan penglihatan yang terus memburuk. Hanya ada satu alternatif saat itu; operasi. Sedangkan si penabrak melarikan diri, karena tidak mau dimintai pertanggungjawaban. Sedangkan himpitan ekonomi yang tidak mampu, tak memungkinkan baginya untuk membayar administrasi rumah sakit.  Hingga akhirnya, Mbah Mijan dengan ikhlas harus rela kehilangan indera penglihatannya.

Meski dengan cacat fisik, tak membuat mereka menadahkan tangan untuk meminta-minta, serta mengharap belaskasihan dari orang lain. Mereka harus berjuang, guna memberikan penghidupan untuk kedua anak,  yang berhak mendapatkan kasih sayang, penghidupan, dan juga pendidikan. Meski hanya berbekal  lima jari di tangan kanan, Mbok Imah dengan tegar menghadapi kenyataan. Melakukan perlawanan pada dunia, yang tidak pernah memberi gratisan untuk sebuah kebahagiaan. Dengan mencapit pisang dan singkong dengan daging tangan sebelah kiri, dan memotongnya dengan tangan kanan, Mbok Imah  mengolah singkong dan pisang menjadi keripik untuk dipasarkan. Sedangkan ditemani putrnya sepulang sekolah, Mbah Mijan mencari kayu bakar di tepi ladang milik tetangga  untuk memasak keripik-keripik tersebut. Untuk singkong dan pisang  didapat dari tetangga  yang dengan rutin mengantarkannya ke rumah mereka, dan akan dibayar setelah keripik-keripik tersebut telah laku dipasarkan.

Tak hanya sebatas menggoreng, bahkan Mbok Imah dengan piawai membungkus dagangannya seapik mungkin, agar memikat para konsumen. Dengan telaten Mbok Imah memasukkan keripik-keripik tersebut ke dalam plastik, kemudian mengelemnya dengan membakar ujung plastik pembungkus, lalu direkatkan. Keripik yang telah dikemas rapi pun kemudian dititipkan ke warung-warung, bahkan ada yang dijual sendiri di pasar. Dengan bergandengan tangan, Mbok Imah dan Mbah Mijan membawa dagangannya tersebut ke pasar Way Jepara. Jika kedua anaknya belum pulang dari sekolah.

 “Diberi hidup sekali kita harus banyak bersyukur, meski dengan keterbatasan tubuh,  tapi saya masih diberi kesehatan,” tutur Mbok Imah, saat suatu hari aku berkunjung untuk membeli keripik ke rumahnya.

Kegigihan dan kerja keras mereka, menghantarkan kedua anaknya hingga lulus dari  bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dan mendapatkan perkerjaan. Setelah itu aku kehilangan kisah sejoli yang patut ditauladani, dan begitu tangguh menghadapi  kehidupan. Karena saat itu, aku harus  pergi merantau untuk membantu keluarga, hingga kini takdir menggiringku  berada di Taiwan.

Potret kehidupan Mbok Imah dan Mbah Mijan, adalah sekelumit kisah pahit yang dialami para penyandang difabel. Meski dengan keterbatasan fisik, mereka tetap menjalani kerasnya kehidupan. Melihat kegigihan mereka, terkadang aku merasa malu, karena masih sering  mengeluh ketika mendapat ujian dari Sang Penguasa Kehidupan. Padahal jika dibandingkan dengan mereka, Tuhan memberikanku anugerah kesehatan fisik yang harus disyukuri.  

Semoga kisah sederhana ini membuat kita semakin bersyukur atas segala anugerah yang kita miliki, dan tak enggan untuk berbagi.

Salam Hangat

@ettydiallova

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it