Menuliaslah! Agar Kisahmu Terekam dalam Keabadian

Aula Taipei Main Station, menjadi destinasi terakhir sekaligus tempat istirahat saat liburan. Seperti hari ini, setelah melakasanakan kelas Tatap muka kedua, saya dan teman-teman menuju di aula. Di tempat ini,tempat menjalin silaturahmi dan juga pembahasan  sederhana dan  istimewa dari sebuah hobi yabg digeluti. Berada di tengah-tengah sahabat yang luar biasa, mampu menyuntikam semangat untuk terus berkarya. Ketika seoranhg sahabat Taiwan memberi kabar.

“Mba Etty, salah satu karyamu  yang menjadi juara lomba dilirik sutradara untuk diangkat ke sebuah film. Bisakah beliau bertemu dan berbincang-bincang denganmu? Karena ada beberapa hal yang ingin beliau tanyakan?”

“Hii, Kak Sima. Sure. Ini sebuah  kehormatan bagi saya. Tentu bisa. Bagaiamana jika hari Minggu. Setelah selesai kuliah kita bertemu di aula?”

Setelah bincang-bincang sederahana kami pun mengatur jadwal pukul 05.00  petang di aula Taipei. Tempat di mana saya dan rekan-rekan yang lain melepas lelah setelah liburan.  Selain tempatnya yang bersih dan nyaman. Tempat ini juga difasilitasi keamanan dan tempat belanja yang mudah dijangkau.

Hari ini kelas usai lebih awal, karena satu mata kuliah kosong. Setelah kelas selesai, saya dan rekan-rekan memutuskan berjalan-jalan menikmati suasana senja di kota Taipei. Setelah puas berjalan-jalam dan menikmati secangkir kopi, saya mengajak rekan-rekan segera ke aula, karena saya sudah berjanji dengan seseoarng di sana.

Nathan Liu, seorang mahasiswa movie di Nasional Taiwan University. Beliau membaca karya  saya yang menjadi Jury Award Pada anugerah Sastra Migran tahun 2017 lalu. Beliau menyatakan keinginannya untuk mengangkat MERAH menjadi sebuah film. Pada pertemuan ini beliau banyak memberikan pertanyaan karakter “Lily” pekerja Indonesia yang merawat seorang kakek pensiunan tentara di Taiwan. Lily seorang wanita cantik dan cerdas, dia dipercaya oleh sang majikan untuk menjaga orang tua nya yang berumur 70 tahun.

Nathan Liu (kaus hitam), Saya, dan Sima

Pada suatu malam, tepatnya saat terjadi  Angin Soudelor. Sebuah tipan ganas hingga menewaskan seorang Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia. Suasana dingin dan mencekam karena aliran listrik padam tidak berfungsi. Terjadilah sebuah peristiwa, yang mengakibatkan Lily harus mengakhiri semuanya dengan Warna Merah yang bersimbah di lantai kamr mandi.

Sebagai  warga negara  Indonesia, ini sebuah keempatan sekaligus kehormatan bagi saya, saat karya yang saya buat dilirik penduduk local untul dipublikasikan ke sebuah film sehingga diakses ke ranah public. Semoga karya ini dapat menginspirasi rekan-rekan yang lain dalam menulis. Karena dengan tulisan, namamu tak akan using ditelan waktu dan usia.

Menulislah, agar jejakmu tak usang dimakan waktu dan usia (@ettydiallova)

Salam hangat

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it