Ada Cinta di Roti Cokelat #Part 3 (Terakhir)

“Ra, dapat salam dari Radit. Ciyeee … sepertinya cowok itu suka deh, sama kamu,” pungkas Vita sambil asyik mengunyah kacang bawang di mulutnya.

“Apaan, sih. Jangan ngegosip ach …. Kamu tahukan apa resikonya kalau sampai Mama Rossa dengar?” kilah Zahra sembari melotot.

“Iya sih, tapi benar kog. Radit suka sama kamu. Tadi siang dia ketemu aku di tangga, pas mau naik istrirahat. Dia tanya-tanya tentang kamu, dan nomor handphonemu.”

“Lalu …?”

“Iya aku kasih. Kan Radit sudah menyelematkan kita dari bencana jalan kaki saat pulang dari Muara Angke.”

“What? Kog dikasih. Tanpa konfirmasi dulu dengan si empunya nomor?” dengus Zahra kesal.

“Yee … kaya sama siapa aja, Ra,” seloroh Vita sambil berlalu.

***

Sejak peristiwa malam itu, Radit dengan sengaja mencuri-curi kesempatan agar dapat bertemu dan ngobrol dengan Zahra. Meski pada awalnya gadis bermata biru itu berusaha menghindar, namun ia tidak dapat memungkiri jika kharisma yang terdapat pada lelaki itu begitu dalam. Radit tidak hanya pintar, tetapi penuh dengan aura hangat dan keromantisan kaum Adam. Seringkali Radit membawakan sebungkus roti cokelat hangat saat pagi hari, hanya untuk memberikan sarapan pada gadis yang telah meneluh hatinya.

“Selamat pagi, Nona manis,” sapa Radit yang tiba-tiba muncul  di ruang administrasi.

“Selamat pagi, Mas Radit,“ balas Zahra terperanjat. Sehingga membuat mata bola ping pongnya membeliak.

“Lihat ini! Aku membawakanmu roti cokelat yang kau gemari, sekalian dengan Nescafee.”

“Kog pakai repot-repot sekali sih, Mas?”

“Apanya yang merepotkan, Cinta? Selagi gak minta digendong saat pulang dari Muara Angke saja! Itu baru aku benar-benar kerepotan. Ha … ha … ha …,” gelak renyah tawa Radit. Membuat raut wajahnya semakin tampan.

“Terima kasih, Mas. Tapi … Zahra takut kalau kedekatan kita ini sampai menimbulkan akibat yang tidak baik,” ucap gadis itu gamang.

“Zahra, tatap mataku! Lalu katakan, apakah kau juga memiliki perasaan yang sama di dalam hatimu? Tentang cinta kita?”

“Tapi, Mas–”

“Sudahlah, tak perlu pedulikan mereka! Toh … kita berdua yang menjalani,“ tutur Radit, seraya memegang lembut jemari gadis yang ia cintai.

***

Hari ke hari benih cinta sepasang insan itu terus merekah, bagaikan mekar kembang mawar di dalam taman. Kuncup-kuncup asmara, kini bermekaran menjadi serbuk rindu yang terus menebar wangi sepanjang waktu. Bahkan hingga tercium oleh Mama Rossa, si empunya perusahan. Yang jelas-jelas tidak menyukai jalinan cinta kasih mereka. Sehingga membawa Radit pada sebuah meja persidangan di suatu malam.

“Kamu tahukan konsekuensi hubunganmu dengan Zahra?” tanya Mama  Rossa di ruang kerjanya.

“Tahu, Bu. Tetapi saya berniat serius dengan Zahra. Jadi Ibu tidak usah khawatir akan terjadi sesuatu yang membuat aib perusahaan ini,” jawab Radit dengan tegas.

“Saya tidak mau tahu, Radit. Peraturan tetap sesuatu yang tidak bisa dilanggar. Kalau sampai aku membiarkan hubungan kalian merebak kemana-mana, maka pekerja dan karyawan lain akan meniru. Dan itu berarti perusahaan ini sudah tidak memiliki reputasi.”

“Tapi, Bu …. Izinkan saya mencarikan pekerjaan pengganti untuk Zahra sementara, jadi dia tidak perlu pulang ke Mamuju.”

“Tidak, Radit. Malam ini pula Zahra akan keluar dari sini, dan pulang ke kampungnya. Karena yang membawa dia ke sini sudah tiba di Jakarta,” tukas Mama Rossa, seraya berlalu pergi.

Radit terpaku, seakan tenggorokannya tercekat oleh selaksa duri yang menyumbat. Sehingga sulit bagi lelaki berkulit hitam manis tersebut berucap kata. Hatinya terasa berat, jika harus berpisah dengan Zahra. Karena Mama Rossa akan memecat kekasihnya tersebut dan menyuruhnya keluar dari perusahaan roti ini. Namun di sisi lain, ia juga belum siap untuk di PHK (Putus Hubungan Kerja). Karena Radit harus membiayai kuliahnya serta bertahan hidup di Jakarta. Ia telah berjanji pada dirinya sendirinya sendiri, akan meraih gelar sarjana saat pulang ke Solo menghadap kedua orangtuanya yang telah mengusirnya dari rumah dahulu. Dikarenakan  Radit  tidak mau dijodohkan dengan putri sahabat ayahnya.

***

Di  dalam kamarnya, Zahra mengemasi seluruh barang-barang dan pakaiannya ke dalam koper berwarna hitam yang ia gunakan saat datang dari kampung dahulu. Meski dengan berat hati, ia harus meninggalkan Papa & Mama Bakery’s, serta mengubur cintanya pada Radit dalam-dalam.

“Ra, kamu tidak ingin menemui Radit dulu sebelum pulang?” ucap Vita yang tengah membantu mengemasi barang-barang Zahra.

“Hanphonenya gak aktif, Vit. Mungkin Mas Radit tidak mau diganggu,” timpal Zahra dengan penuh kesedihan.

“Tidak, Ra. Aku tahu siapa Radit. Dia lelaki baik, serta tidak pernah memainkan perasaan wanita.”

Zahra hanya terdiam, menahan desak-desak air mata yang hendak keluar. Dia tidak pernah menyangka jika hubungannya dengan Radit hanya seumur jagung. Karena malam ini juga gadis itu harus meninggalkan tempat kerjanya, serta kembali ke Mamuju.

***

Dengan langkah gontai Zahra barjalan mengikuti seorang kelaki setengah baya yang dipanggil Pakde. Ia adalah lelaki yang telah membawa Zahra dari desa Mamuju, lalu mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sambil  menyeret koper hitamnya, Zahra berusaha mengubur kenangan indah bersama Radit. Lelaki yang teramat ia kasihi dengan segudang perhatiannya. Sesungguhnya saat berpisah tidaklah terlalu sakit, tetapi yang teramat sakit ketika kita kembali mengenang masa-masa indah bersama.

“Selamat tinggal, Mas Radit. Biarlah kenangan indah kita sehangat dan semanis roti cokelat, yang sering kau berikan padaku,” gumam Zahra lirih, dengan mata berkaca-kaca.

Dari arah belakang terdengar seseorang memanggil-manggil Zahra. Gadis itu menoleh untuk mencari tahu siapa gerangan yang telah menyusulnya. Sosok laki-laki yang sejak tadi bermain di dalam angannya itulah, yang berada di kejauhan. Zahra berhenti sejenak. Namun, ia tahu berbicara dengan Radit, sama seperti menyayat hatinya sendiri dengan sembilu. Nyeri, berdarah, yang begitu terasa. Dan lagi  lelaki yang dipanggil Pakde tersebut, dengan keras menarik tangan Zahra serta merta mempercepat langkahnya dengan alasan takut tertinggal kereta.

“Zahra, buruan jalannya! Nanti kita tertinggal kereta,” ujar Pakde dengan nada ketus.

“Tunggu sebentar saja, Pak. Saya hanya ingin bicara sebentar dengan lelaki itu,” timpal Zahra seraya memelas iba.

“Tidak, Zahra. Ayo, buruan!”

Dan disaat keduanya tengah tarik menarik koper , terdengar suara suatu benda tertabrak. Brak …!!! Suaranya itu berasal dari arah belakang mereka berdua. Seketika itu juga Zahra melihat tubuh seseorang terpelanting menabrak pembatas jalan, tertabrak sebuah motor dari arah yang berlawanan.

“Mas, Radit …!” Zahra berlari menghambur ke arah kerumunan orang yang berusaha menolong korban kecelakaan tersebut.

Nampak tubuh lelaki memakai kemeja berwarna cokelat muda, dibalut jaket hitam tengah terbujur  berlumuran darah. Tidak jauh dari tempatnya tergeletak, terdapat sebuah bungkusan kado kecil serta roti cokelat yang berserakan akibat terhantam kendaraan. Radit tertabrak motor dari arah yang berlawanan arah ketika berusaha mengejar Zahra untuk memberikan bingkisan hadiah perpisahan dan beberapa bungkus roti cokelat kegemaran wanita yang amat dicintainya itu.

Tiada lagi Radit yang penuh cinta dan kasih sayang. Semua berganti serpihan kasih yang tulus hingga membawa lelaki itu pergi bersama ketulusan perasaannya. Zahra hanya bisa tergugu, menahan seonggok penyesalan di dalam hati. Andai saja ia berpamitan terlebih dahulu terhadap Radit, mungkin kekasihnya tak akan mengejar hingga ke jalan. Atau andai saja Zahra mau berhenti sejenak untuk menerima kado dan roti cokelat itu, mungkin saja motor itu takkan menghantam dan melindas tubuh lelaki yang Zahra sayangi. Owh … andai saja semua dapat dicegah, mungkin Zahra tidak akan terpasung di dalam ruangan itu dengan sejuta kenangan tentang roti cokelatnya.Taipei, 10 Agustus 2017

SELESAI

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it