Pekerja Migran di Taiwan Tuntut Penghapusan Perdagangan Job oleh Agensi

Puluhan pekerja migran asing  di Taiwan menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Departemen Tenaga Kerja (MOL) Taiwan yang berlangsung pada hari Minggu (16/12/18).. Mereka menuntut Departemen Tenaga Kerja Taiwan  mengambil sikap  tegas bagi pihak agensi yang secara ilegal membebankan biaya perekrutan pekerja untuk mempeerpanjang dan mendapatkan kontrak baru.

Pasalnya banyak sekali pekerja menjadi korban pungutan liar yang dilakukan agensi, seperti kisah yang diutarakan salah satu peserta unjuk aras asal Indonesia  bernama Andy.

“Sebelum kontrak tiga tahun pertamanya berakhir, ia diberitahu oleh pihak agensi bahwa ia harus membayar uang sebesar NT $ 75.000  atau setara dengan Rp.35. 250.000 untuk mendapatkan pekerjaan baru atau menerima risiko  kembali ke Indonesia. Saya tidak punya pilihan selain, akhirnya saya  meminjam uang dari teman-temannya untuk membayar uang sebesar NT $ 75.000 kepada  agensi. Namun, pekerjaan yang saya terima justru  ilegal,” tutur Andy di tengah-tengah orasi.

Pekeja tersebut mengutarakan keluhan kepada otoritas tenaga kerja setempat, tetapi tidak diterima. Para pejabat mengatakan bahwa saya tidak memberikan bukti yang sesuai. Jumlah uang yang dibebankan  agensi kepada Andy tiga kali lebih tinggi dari upah minimum bulanan para pekerja asing yang umumnya bekerja di pabrik-pabrik dan sektor industri di Taiwan.

Menurut Fajar Albarokah, salah satu aktivis dari PMI menuturkan pihal MOL sendiri telah menyetujuti dan mengesahkan tidak ada pungutan biaya untuk proses perpanjang kontrak yang dituangkan dalam   Amandemen 2016  menghapuskan persyaratan bahwa pekerja asing harus meninggalkan Taiwan untuk satu hari setelah tiga tahun bekerja di Taiwan agar dapat memenuhi syarat untuk masuk kembali ke Taiwan untuk memperbarui kontrak kerja mereka atau mulai bekerja pada kontrak baru dan membebaskan pekerja migran asing dari pembayaran biaya penempatan lain baik di sector formal ataupun informal.  

Sayangnya, karena faktor desakan dan intimidasi akan dipulangkan, banyak pekerja migran yang  membayar agensi untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga pekerja migran tetap menjadi sasaran empuk untuk praktik jual beli job yang dilakukan agensi nakal. Terutama tenaga kerja yang bekerja di sector formal, yang harus menggelontorkan uang dalam jumlah banyak untuk mendapt pekerjaan.

Kurangnya mekanisme pencocokan pekerjaan yang dioperasikan oleh pemerintah, sehingga membuat  pekerja migran hanya dapat beralih ke pihak agensi ketika mereka perlu mendapatkan kontrak baru karena sebagian besar saluran pencarian pekerjaan didominasi oleh pialang atau  agensi.Selain itu, biaya penempatan yang berlebihan dibebankan kepada pekerja migran yang datang ke Taiwan tetap merupakan masalah serius yang belum mendaptkan titik penyelesaian. []

Taiwan, 17 Desember 2018

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thanks For Sharing! Please Share it